Beberapa Kontroversi tentang Supersemar
(Silahkan baca dan komentari sesuai argumen sobat)
* Menurut penuturan salah satu dari ketiga perwira tinggi AD yang
akhirnya menerima surat itu, ketika mereka membaca kembali surat itu
dalam perjalanan kembali ke Jakarta, salah seorang perwira tinggi yang
kemudian membacanya berkomentar "Lho ini khan perpindahan kekuasaan".
Tidak jelas kemudian naskah...
asli Supersemar karena beberapa tahun kemudian naskah asli surat ini
dinyatakan hilang dan tidak jelas hilangnya surat ini oleh siapa dan
dimana karena pelaku sejarah peristiwa "lahirnya Supersemar" ini sudah
meninggal dunia. Belakangan, keluarga M. Jusuf mengatakan bahwa naskah
Supersemar itu ada pada dokumen pribadi M. Jusuf yang disimpan dalam
sebuah bank.
* Menurut kesaksian salah satu pengawal
kepresidenan di Istana Bogor, Letnan Satu (lettu) Sukardjo Wilardjito,
ketika pengakuannya ditulis di berbagai media massa setelah Reformasi
1998 yang juga menandakan berakhirnya Orde Baru dan pemerintahan
Presiden Soeharto. Dia menyatakan bahwa perwira tinggi yang hadir ke
Istana Bogor pada malam hari tanggal 11 Maret 1966 pukul 01.00 dinihari
waktu setempat bukan tiga perwira melainkan empat orang perwira yakni
ikutnya Brigadir jendral (Brigjen) M. Panggabean. Bahkan pada saat
peristiwa Supersemar Brigjen M. Jusuf membawa map berlogo Markas Besar
AD berwarna merah jambu serta Brigjen M. Pangabean dan Brigjen Basuki
Rahmat menodongkan pistol kearah Presiden Soekarno dan memaksa agar
Presiden Soekarno menandatangani surat itu yang menurutnya itulah Surat
Perintah Sebelas Maret yang tidak jelas apa isinya. Lettu Sukardjo yang
saat itu bertugas mengawal presiden, juga membalas menodongkan pistol
ke arah para jenderal namun Presiden Soekarno memerintahkan Soekardjo
untuk menurunkan pistolnya dan menyarungkannya. Menurutnya, Presiden
kemudian menandatangani surat itu, dan setelah menandatangani, Presiden
Soekarno berpesan kalau situasi sudah pulih, mandat itu harus segera
dikembalikan. Pertemuan bubar dan ketika keempat perwira tinggi itu
kembali ke Jakarta. Presiden Soekarno mengatakan kepada Soekardjo bahwa
ia harus keluar dari istana. “Saya harus keluar dari istana, dan kamu
harus hati-hati,” ujarnya menirukan pesan Presiden Soekarno. Tidak lama
kemudian (sekitar berselang 30 menit) Istana Bogor sudah diduduki
pasukan dari RPKAD dan Kostrad, Lettu Sukardjo dan rekan-rekan
pengawalnya dilucuti kemudian ditangkap dan ditahan di sebuah Rumah
Tahanan Militer dan diberhentikan dari dinas militer. Beberapa kalangan
meragukan kesaksian Soekardjo Wilardjito itu, bahkan salah satu pelaku
sejarah supersemar itu, Jendral (Purn) M. Jusuf, serta Jendral (purn) M
Panggabean membantah peristiwa itu.
* Menurut Kesaksian A.M.
Hanafi dalam bukunya "A.M Hanafi Menggugat Kudeta Soeharto", seorang
mantan duta besar Indonesia di Kuba yang dipecat secara tidak
konstitusional olehSoeharto. Dia membantah kesaksian Letnan Satu
Sukardjo Wilardjito yang mengatakan bahwa adanya kehadiran Jendral M.
Panggabean ke Istana Bogor bersama tiga jendral lainnya (Amirmachmud,
M. Jusuf dan Basuki Rahmat) pada tanggal 11 Maret 1966 dinihari yang
menodongkan senjata terhadap Presiden Soekarno. Menurutnya, pada saat
itu, Presiden Soekarno menginap di Istana Merdeka, Jakarta untuk
keperluan sidang kabinet pada pagi harinya. Demikian pula semua
menteri-menteri atau sebagian besar dari menteri sudah menginap
diistana untuk menghindari kalau datang baru besoknya,
demonstrasi-demonstrasi yang sudah berjubel di Jakarta. A.M Hanafi
Sendiri hadir pada sidang itu bersama Wakil Perdana Menteri (Waperdam)
Chaerul Saleh. Menurut tulisannya dalam bukunya tersebut, ketiga
jendral itu tadi mereka inilah yang pergi ke Istana Bogor, menemui
Presiden Soekarno yang berangkat kesana terlebih dahulu. Dan menurutnya
mereka bertolak dari istana yang sebelumnya, dari istana merdeka Amir
Machmud menelepon kepada Komisaris Besar Soemirat, pengawal pribadi
Presiden Soekarno di Bogor, minta ijin untuk datang ke Bogor. Dan semua
itu ada saksinya-saksinya. Ketiga jendral ini rupanya sudah membawa
satu teks, yang disebut sekarang Supersemar. Di sanalah Bung Karno,
tetapi tidak ditodong, sebab mereka datang baik-baik. Tetapi di luar
istana sudah di kelilingi demonstrasi-demonstrasi dantank-tank ada di
luar jalanan istana. Mengingat situasi yang sedemikian rupa, rupanya
Bung Karno menandatangani surat itu. Jadi A.M Hanafi menyatakan,
sepengetahuan dia, sebab dia tidak hadir di Bogor tetapi berada di
Istana Merdeka bersama dengan menteri-menteri lain. Jadi yangdatang ke
Istana Bogor tidak ada Jendral Panggabean. Bapak Panggabean, yang pada
waktu itu menjabat sebagai Menhankam, tidak hadir.
* Tentang
pengetik Supersemar. Siapa sebenarnya yang mengetik surat tersebut,
masih tidak jelas. Ada beberapa orang yang mengaku mengetik surat itu,
antara lain Letkol (Purn) TNI-AD Ali Ebram, saat itu sebagai staf
Asisten I Intelijen Resimen Tjakrabirawa.
* Kesaksian yang
disampaikan kepada sejarawan asing, Ben Anderson, oleh seorang tentara
yang pernah bertugas di Istana Bogor. Tentara tersebut mengemukakan
bahwa Supersemar diketik di atas surat yang berkop Markas besar
Angkatan Darat, bukan di atas kertas berkop kepresidenan. Inilah yang
menurut Ben menjadi alasan mengapa Supersemar hilang atau sengaja
dihilangkan.
Berbagai usaha pernah dilakukan Arsip Nasional
untuk mendapatkan kejelasan mengenai surat ini. Bahkan, Arsip Nasional
telah berkali-kali meminta kepada Jendral (Purn) M. Jusuf, yang
merupakan saksi terakhir hingga akhir hayatnya 8 September 2004, agar
bersedia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun selalu gagal.
Lembaga ini juga sempat meminta bantuan Muladi yang ketika itu menjabat
Mensesneg, Jusuf Kalla, dan M. Saelan, bahkan meminta DPR untuk
memanggil M. Jusuf. Sampai sekarang, usaha Arsip Nasional itu tidak
pernah terwujud. Saksi kunci lainnya, adalah mantan presiden Soeharto.
Namun dengan wafatnya mantan Presiden Soeharto pada 27 Januari 2008,
membuat sejarah Supersemar semakin sulit untuk diungkap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar